Ngantang, 13 November 2025 — Kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) gabungan Kecamatan Ngantang–Kasembon kembali menorehkan kesan mendalam. Digelar di MI Islamiyah Kaumrejo, rangkaian penilaian tahun ini bukan hanya menjadi ajang evaluasi kinerja, tetapi juga panggung inovasi, kreativitas, dan optimisme baru bagi madrasah-madrasah di wilayah perbatasan Kabupaten Malang. Penilaian yang semestinya dilaksanakan di madrasah masing-masing ini terpaksa dilakukan secara gabungan karena keterbatasan jumlah pengawas dan banyaknya madrasah yang harus dinilai dalam waktu bersamaan. Pada PKKM Kelompok 2 KKMI Bontang, terdapat empat kepala madrasah yang hadir untuk mengikuti proses penilaian tersebut.
Penilaian dipimpin oleh dua pengawas madrasah, yaitu Bapak Jumadi, M.Pd (Pengawas Kecamatan Ngantang–Kasembon) dan Dr. Abd. Aziz Tata Pangarsa, M.Pd (Pengawas Kecamatan Pujon), yang hadir sejak pagi untuk memastikan seluruh proses berjalan objektif, transparan, dan sesuai ketentuan.
Sejak pukul 07.30 WIB, para kepala madrasah, operator, dan wakil kepala bidang kurikulum mulai berdatangan sambil membawa berkas-berkas penilaian. Tepat pukul 07.55 WIB, kedua pengawas tiba dan langsung disambut oleh dewan guru MI Islamiyah Kaumrejo, menciptakan suasana yang penuh keakraban dan kehormatan.
Tidak seperti pembukaan resmi yang kaku, acara dibuka dengan nuansa yang lebih santai dan memotivasi. Para pengawas disambut dengan penampilan siswa berprestasi MI Islamiyah Kaumrejo, menampilkan rangkaian talenta yang menjadi kebanggaan madrasah.
Penampilan pertama dibawakan oleh Kaisa, siswa kelas 5, peraih Juara 3 Pidato Anak (Dacil) tingkat Kabupaten Malang pada ajang Porseni. Dengan artikulasi yang tegas dan ekspresi penuh percaya diri, Kaisa berhasil menghadirkan suasana pembuka yang menggugah, seakan menyampaikan pesan bahwa madrasah-madrasah di Ngantang–Kasembon yang dipimpin para kepala madrasah yang hebat dan inovatif memiliki potensi generasi emas yang siap bersaing.
Disusul oleh Galang, siswa kelas 5 yang membawakan seni bela diri pencak silat. Sebagai peraih Juara 3 Pencak Silat Kategori PA pada Porseni Kabupaten Malang, Galang tampil penuh energi dan ketepatan gerak, membuat para peserta PKKM terpukau dengan ketangkasannya.
Penampilan ditutup dengan suara merdu Nadien, siswi kelas 3 peraih Juara 1 Lomba Menyanyi tingkat Kabupaten Malang, sekaligus duta Kabupaten Malang untuk Porseni Jawa Timur di Jember. Dengan suara yang jernih dan teknik vokal yang matang, Nadien menghadirkan suasana haru sekaligus bangga di ruangan itu—mewakili bakat seni yang terus tumbuh di lingkungan madrasah.
Usai penampilan siswa, Dr. Abd. Aziz Tata Pangarsa memberikan apresiasi yang tinggi. Ia menyampaikan bahwa madrasah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang besar bagi anak-anak untuk menemukan bakat dan identitas dirinya.
“Teruslah mewadahi bakat-bakat hebat seperti ini. Madrasah harus berani berkreasi dan membuat karya-karya kreatif, termasuk cover lagu dan konten edukatif lainnya,” ungkap Dr. Aziz dengan penuh motivasi.
Beliau menegaskan bahwa pengembangan karakter dan minat siswa merupakan bagian penting dari kualitas sebuah madrasah, sekaligus menjadi indikator keberhasilan kepemimpinan kepala madrasah.
Acara dibuka elegan oleh Winda Elvania, S.Pd, guru MI Islamiyah Kaumrejo yang tampil percaya diri sebagai pembawa acara tingkat dua. Suasana menguat ketika Nisa Kholifa, S.Pd, alumni yang kini mengabdi kembali di madrasah, memimpin lagu Indonesia Raya dan Mars Madrasah dengan penuh hikmat.
Rangkaian pembukaan semakin emosional dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Saifulloh, guru agama sekaligus penanggung jawab kegiatan keagamaan MI Islamiyah Kaumrejo.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua KKMI Ngantang–Kasembon, Saiful Adi Mulyono, S.Pd.SD., M.Pd, yang juga Kepala MI Islamiyah Kaumrejo. Dalam orasinya, ia menekankan bahwa PKKM tahun ini mengusung semangat transformasi kepemimpinan. Ia memperkenalkan moto yang menjadi ruh kegiatan:
“Bangun lebih pagi, berangkat lebih awal, berpikir lebih maju, bertindak lebih bijak, dan berbuat lebih nyata. Karena ada Guru, Siswa, dan Masa Depan yang menunggu kita hari ini.”
Menurutnya, moto tersebut bukan sekadar rangkaian kata motivatif, melainkan pijakan sikap bagi setiap pemimpin madrasah untuk menghadirkan perubahan yang terukur dan memberi dampak langsung bagi mutu pendidikan. beliau menegaskan bahwa seorang kepala madrasah bukan hanya administrator, tetapi figur yang membawa harapan, teladan, dan arah kemajuan bagi seluruh ekosistem pendidikan.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Dr. Abd. Aziz, selaku pengawas madrasah. Beliau memaparkan struktur dan mekanisme penilaian, menekankan pentingnya presentasi yang padat, fokus, dan efisien. Ia mengingatkan para kepala madrasah untuk memanfaatkan waktu maksimal 15 menit guna menunjukkan perkembangan lembaga masing-masing secara objektif, tanpa perlu mengulang sejarah yang telah diketahui oleh tim penilai.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa PKKM bukan hanya formalitas, tetapi instrumen evaluatif untuk menumbuhkan profesionalitas dan akuntabilitas kepala madrasah.
Rangkaian acara seremonial ditutup dengan doa oleh Bapak Jumadi, M.Pd, yang memohonkan kelancaran proses penilaian dan keberkahan atas seluruh ikhtiar peningkatan mutu pendidikan Islam di wilayah Ngantang–Kasembon.
Presentasi yang Menghidupkan Ruang Penilaian
Sesi presentasi menjadi bagian paling dinamis. Setiap kepala madrasah tampil dengan karakter dan kekuatan masing-masing, memberi warna sekaligus menunjukkan capaian nyata sepanjang tahun.
Jamiatul Almiyah, M.Pd (MI NU Hidayatul Mubtadiin Ngantru) Hadir dengan PPT berdesain unik, ia menyajikan materi layaknya laporan kegiatan profesional. Alurnya rapi dan kreatif, membuat kedua penilai, Dr. Abd. Aziz dan Bapak Jumadi, memberi perhatian khusus karena presentasi yang mudah dipahami dan memikat.
Abdul Wahid, M.Pd (MI Miftahul Huda Kasin Jombok) Membawa energi yang berbeda, presentasinya penuh warna menggambarkan kepemimpinan visioner dan rencana lima tahun ke depan. Video dokumentasi kegiatan selama setahun, lengkap dengan musik Mars MI, membuat Dr. Aziz terkesan. Ia hanya menambahkan satu catatan: “Lengkapi identitas madrasah dengan mencantumkan alamat agar semakin kuat.”
Zulia Fitriani, S.Pd (MI Al-Ikhlash Kasembon) Membawa kisah inspiratif tentang transformasi madrasah dari titik bawah hingga meraih prestasi membanggakan. Banyaknya capaian yang disampaikan membuat waktunya melebar hingga 40 menit—dan Dr. Aziz tidak hanya memaklumi, tetapi memberikan penghargaan atas dedikasi luar biasa yang tampak dari setiap slide dan cerita.
Saiful Adi Mulyono, S.Pd.SD., M.Pd (MI Islamiyah Kaumrejo) Menghadirkan presentasi berbasis teknologi dengan analisis SWOT sebagai pondasi perencanaan. Ia menekankan pentingnya dasar hukum, kesiapan SDM, tujuan terukur, dan dampak yang nyata.
Dr. Aziz mengapresiasi pendekatan strategis ini dan menegaskan kembali moto guru yang ia kuatkan:
“Mengajar dengan hati, mengabdi dengan sepenuh jiwa, menciptakan generasi bermakna.”
Tak hanya itu, karya buku siswa “Unspoken Farewell” turut mencuri perhatiannya sebagai bukti kreativitas dan budaya literasi yang kuat.
Apresiasi Pengawas: Potensi Besar dari Madrasah Perbatasan
Di sesi akhir, para pengawas memberikan catatan sekaligus apresiasi.
Bapak Jumadi, M.Pd, mengakui kerja keras para kepala madrasah dalam mempersiapkan berkas dan presentasi. “Hari ini bukan sekadar penilaian, tetapi bukti bahwa kepala madrasah di sini adalah para penggerak perubahan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Abd. Aziz menegaskan bahwa madrasah-madrasah di wilayah Ngantang–Kasembon memiliki potensi luar biasa. “Dengan kepemimpinan visioner dan kerja kolaboratif, madrasah di perbatasan ini akan menjadi kekuatan pendidikan yang hebat dan berprestasi.”
Jejak Harapan di Penghujung Kegiatan
Kegiatan PKKM gabungan ini lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjadi saksi bahwa kerja keras, inovasi, dan komitmen para kepala madrasah dapat melahirkan pendidikan yang lebih berkualitas, humanis, dan bermakna bagi masa depan anak bangsa.
Semangat kolaborasi yang hadir hari ini menjadi modal penting. Dari ruang penilaian inilah lahir optimisme bahwa madrasah di wilayah perbatasan tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga siap menjadi teladan.
Nisa Kholifah, S.Pd Humas MI Islamiyah kaumrejo